Efek Kopi Lebih Manjur Pada Perempuan
Vera Farah Bararah - detikHealth
Bristol, Inggris, Sebagian besar orang cenderung minum kopi untuk mengatasi keadaan stres di tempat kerja. Tapi studi menunjukkan efek ini akan lebih berpengaruh pada perempuan dibandingkan laki-laki.
Sebuah studi menunjukkan bahwa kafein mungkin memiliki efek lebih positif terhadap perempuan daripada laki-laki, setidaknya dalam situasi tertentu seperti saat stres.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Social Psychology menunjukkan perempuan yang mengonsumsi kopi berkafein akan memiliki performa yang lebih baik saat berada di bawah situasi stres yang penuh tekanan dibanding laki-laki.
Studi yang dipimpin oleh Dr Lindsay St Claire dari University of Bristol bertujuan untuk menguji apakah konsumsi kafein bisa memperparah stres dan mengganggu performa dari suatu tim atau tidak.
Dalam studi ini ia melibatkan 64 laki-laki dan perempuan yang berusia rata-rata 22 tahun. Partisipan diminta menyelesaikan berbagai teka-teki, tugas memori serta bernegosiasi setelah minum kopi berkafein dan yang tanpa kafein.
Setelah mengonsumsi kafein, kinerja laki-laki yang berada di bawah tekanan jauh lebih rendah dari perempuan, dan perempuan yang mengonsumsi kafein bisa memecahkan teka-teki 100 detik lebih cepat dibanding laki-laki.
Para peneliti berteori ketika berada di bawah stres, laki-laki cenderung berperilaku lebih agresif sedangkan perempuan lebih cenderung berkolaborasi. Kondisi inilah yang membuat performa perempuan lebih baik dibanding laki-laki saat berada di bawah stres.
"Kafein meningkatkan dopamin dan bisa membantu seseorang memenuhi kebutuhannya dalam situasi stres," ujar Dr Eric Braverman, direktur PATH Medical di New York, seperti dikutip dari AOLHealth, Senin (24/1/2011).
Braverman menuturkan kafein bisa memberikan dorongan kemampuan pada seseorang untuk mengatasi stres jika tidak dikonsumsi dalam jumlah berlebihan. Hubungan antara stres dan kafein adalah sesuatu yang penting karena masyarakat mengonsumsi kafein sepanjang hari.
(ver/ir)
Jakarta, Setiap wanita mengalami fase menopause dalam kehidupannya, walaupun gejalanya dapat berbeda. Konsumsi kafein dipercaya dapat memperburuk gejala menopause. Bagaimana hal tersebut terjadi?
Wanita menopause bisa mengalami gejala seperti sensasi terbakar (hot flashes), vagina kering, sulit tidur, perubahan suasana hati, dan lainnya. Hal ini bisa diperparah dengan konsumsi kafein, yaitu meningkatkan risiko serangan jantung dan osteoporosis. Kafein juga dapat menyebabkan menopause dini.
Seperti dilansir dari Buzzle, Jumat (18/6/2010), berikut beberapa alasan mengapa kafein memperburuk menopause, yaitu:
1. Konsumsi kopi menghambat penyerapan mineralKafein menyebabkan pengurangan serapan magnesium dan kalsium dalam ginjal, sehingga mineral tersebut dikeluarkan oleh urine. Kalsium sangat penting untuk mencegah osteoporosis dan mempertahankan fungsi dari sistem saraf dan jantung. Magnesium penting untuk fungsi normal tubuh seperti penggunaan efektif glukosa, metabolisme energi, fungsi kesehatan jantung, dan keseimbangan hormon. Kopi juga menghambat penyerapan zat besi dan menyebabkan anemia.
2. Kafein menurunkan kepadatan tulangKafein dikaitkan dengan pengingkatan risiko wanita menderita kepadatan tulang rendah. Kafein dihubungkan dengan kehilangan tulang, terutama dijumpai pada wanita yang tidak memiliki cukup kalsium dalam menu hariannya.
3. Kafein meningkatkan gejala sensasi terbakarKopi dapat mengganggu tidur, dan hal ini dapat meningkatkan gejala khas pada wanita menopause, yaitu sensasi terbakar dalam tubuh atau hot flashes.
4. Kafein meningkatkan hormon stresTingkat hormon stres seperti adrenalin, kortisol, dan norepinephrine meningkatkan karena kafein. Hormon-hormon ini menyebabkan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, yang menyebabkan 'respons panik'. Oksigen ke kaki dan otak juga berkurang, dan ada penekanan sistem kekebalan tubuh.
5. Kafein berinteraksi negatif dengan hormonWanita menopause yang menjalani terapi hormon dan juga mengkonsumsi kafein dapat meningkatkan kesempatan penyakit Parkinson. Konsumsi kafein juga meningkatkan tingkat homocysteine, yang bertanggung jawab meningkatkan risiko patah tulang dan osteoporosis.
Selain itu, kafein juga mengganggu metabolisme Gamma-aminobutyric acid (GABA), yang penting untuk pengelolaan stres dan suasana hati. Hal ini jelas memperburuk gejala menopause yang dirasakan wanita.
(mer/up)
Sebuah studi menunjukkan bahwa kafein mungkin memiliki efek lebih positif terhadap perempuan daripada laki-laki, setidaknya dalam situasi tertentu seperti saat stres.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Applied Social Psychology menunjukkan perempuan yang mengonsumsi kopi berkafein akan memiliki performa yang lebih baik saat berada di bawah situasi stres yang penuh tekanan dibanding laki-laki.
Studi yang dipimpin oleh Dr Lindsay St Claire dari University of Bristol bertujuan untuk menguji apakah konsumsi kafein bisa memperparah stres dan mengganggu performa dari suatu tim atau tidak.
Dalam studi ini ia melibatkan 64 laki-laki dan perempuan yang berusia rata-rata 22 tahun. Partisipan diminta menyelesaikan berbagai teka-teki, tugas memori serta bernegosiasi setelah minum kopi berkafein dan yang tanpa kafein.
Setelah mengonsumsi kafein, kinerja laki-laki yang berada di bawah tekanan jauh lebih rendah dari perempuan, dan perempuan yang mengonsumsi kafein bisa memecahkan teka-teki 100 detik lebih cepat dibanding laki-laki.
Para peneliti berteori ketika berada di bawah stres, laki-laki cenderung berperilaku lebih agresif sedangkan perempuan lebih cenderung berkolaborasi. Kondisi inilah yang membuat performa perempuan lebih baik dibanding laki-laki saat berada di bawah stres.
"Kafein meningkatkan dopamin dan bisa membantu seseorang memenuhi kebutuhannya dalam situasi stres," ujar Dr Eric Braverman, direktur PATH Medical di New York, seperti dikutip dari AOLHealth, Senin (24/1/2011).
Braverman menuturkan kafein bisa memberikan dorongan kemampuan pada seseorang untuk mengatasi stres jika tidak dikonsumsi dalam jumlah berlebihan. Hubungan antara stres dan kafein adalah sesuatu yang penting karena masyarakat mengonsumsi kafein sepanjang hari.
(ver/ir)
Bagaimana Kafein Memperburuk Menopause Wanita?
Merry Wahyuningsih - detikHealth
Wanita menopause bisa mengalami gejala seperti sensasi terbakar (hot flashes), vagina kering, sulit tidur, perubahan suasana hati, dan lainnya. Hal ini bisa diperparah dengan konsumsi kafein, yaitu meningkatkan risiko serangan jantung dan osteoporosis. Kafein juga dapat menyebabkan menopause dini.
Seperti dilansir dari Buzzle, Jumat (18/6/2010), berikut beberapa alasan mengapa kafein memperburuk menopause, yaitu:
1. Konsumsi kopi menghambat penyerapan mineralKafein menyebabkan pengurangan serapan magnesium dan kalsium dalam ginjal, sehingga mineral tersebut dikeluarkan oleh urine. Kalsium sangat penting untuk mencegah osteoporosis dan mempertahankan fungsi dari sistem saraf dan jantung. Magnesium penting untuk fungsi normal tubuh seperti penggunaan efektif glukosa, metabolisme energi, fungsi kesehatan jantung, dan keseimbangan hormon. Kopi juga menghambat penyerapan zat besi dan menyebabkan anemia.
2. Kafein menurunkan kepadatan tulangKafein dikaitkan dengan pengingkatan risiko wanita menderita kepadatan tulang rendah. Kafein dihubungkan dengan kehilangan tulang, terutama dijumpai pada wanita yang tidak memiliki cukup kalsium dalam menu hariannya.
3. Kafein meningkatkan gejala sensasi terbakarKopi dapat mengganggu tidur, dan hal ini dapat meningkatkan gejala khas pada wanita menopause, yaitu sensasi terbakar dalam tubuh atau hot flashes.
4. Kafein meningkatkan hormon stresTingkat hormon stres seperti adrenalin, kortisol, dan norepinephrine meningkatkan karena kafein. Hormon-hormon ini menyebabkan peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, yang menyebabkan 'respons panik'. Oksigen ke kaki dan otak juga berkurang, dan ada penekanan sistem kekebalan tubuh.
5. Kafein berinteraksi negatif dengan hormonWanita menopause yang menjalani terapi hormon dan juga mengkonsumsi kafein dapat meningkatkan kesempatan penyakit Parkinson. Konsumsi kafein juga meningkatkan tingkat homocysteine, yang bertanggung jawab meningkatkan risiko patah tulang dan osteoporosis.
Selain itu, kafein juga mengganggu metabolisme Gamma-aminobutyric acid (GABA), yang penting untuk pengelolaan stres dan suasana hati. Hal ini jelas memperburuk gejala menopause yang dirasakan wanita.
(mer/up)


